Selasa, 27 Oktober 2009

Artikel: Islamic School Sebuah Alternatif



Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Darto, Spd
Saya Guru di MTsN Babadan Baru Sleman
Tanggal: 3 Juni 2004
Judul Artikel: Islamic School Sebuah Alternatif
Topik: Membangun Citra Madrasah

Islamic School Sebuah Alternatif
Oleh : Darto S.Pd*
Tahun ajaran 2003/2004 segera berakhir. Euforia tahun ajaran baru 2004/205 sudah mulai terasa. Fenomena orang sibuk mencari sekolah akan segera dapat kita saksikan. Sekolah lanjutan yang sering membuat masyarakat sibuk dalam mencarikan sekolah untuk putra-ptrinya adalah SMP dan SMA. Pemerintah sudah mulai mensosialisasikan sistem penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2004/2005. Untuk SMP tahun ini dalam penjaringan siswa baru akan didasarkan pada hasil test, sedangkan untuk masuk SMU didasarkan pada nilai UAN SMP. Beberapa sekolah sudah menabuh genderang penerimaan siswa baru. Kegiatan dengan label sosialisasi sekolah ( Open House, Pameran, Kunjungan, Press Relase ) diadakan guna mendapat apresiasi masyarakat.

Keprihatinan Madrasah

Standard kelulusan pada tahun ini ditetapkan nilai minimal untuk semua mata pelajaran yang diujikan harus 4.01. Polemik tentang standard kelulusan sempat terjadi sehingga melahirkan "kebijakan bagi siswa yang belum lulus pada ujian utama akan mendapat kesempatan mengikuti ujian ulangan khusus untuk mata pelajaran yang belum lulus". Bagi sekolah fovorite standard kelulusan 4.01 dapat memperkuat Brand Image dalam penerimaan siswa baru tahun ajaran 2004/2005, karena dengan input yang sudah baik, akan dapat dengan mudah menggapai standard tersebut. Namun bagi sekolah yang tidak favorite, UAN ( Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris) menjadi hantu baru yang akan dapat mengurangi kepercayaan masyarakat dalam menyekolahkan putra-putrinya. Kerena standard kelululusan 4.01 akan sulit digapainya. Apabila hal ini terjadi maka pada sekolah tersebut banyak siswa yang tidak lulus, akibatnya masyarakat kurang percaya pada sekolah tersebut.

Madrasah ( Tsanawiyah dan Aliyah ) yang termasuk sebagai sekolah yang tidak favorite, standard kelulusan 4.01 akan menjadi penambah keprihatinan yang selama ini dirasakan. Keprihatian Madrasah terjadi kerena di masyarakat berkembang pandangan yang keliru terhadap MTsN maupun MAN, sehinggga madrasah di DIY belum dijadikan sebagai pilihan untuk kelanjutan pendidikan bagi putra - putrinya. Mereka mengganggap bahwa MTsN dan MAN adalah hanya sekolah agama dan sekolah swasta. Masyarakat tidak mengetahui bahwa MTsN adalah sama dengan SMPN di bawah Departemen Agama sehingga muatan keagamaannya lebih banyak, oleh karena itu tentu dapat dijadikan sebagai pilihan bagi lulusan SD/MI untuk melanjutkan pendidikannya. Demikian juga MAN adalah sama dengan SMAN, yang mestinya dapat dijadikan sebagai kelanjutan SMP atau MTs. Label Negeri yang melekat pada MTsN dan MAN, tidak cukup kuat untuk menarik minat masyarakat dalam menyekolahkan putri-ptrinya bahkan kesan sebagai sekolah swasta lebih mendominasi.

Tidak dipungkiri sebagian besar Madrasah di DIY belum dapat menerapkan Managemant yang profesional. Hal ini dikarenakan beberapa hal antara lain :

(1)Keterbatasan SDM baik kwalitas maupun kwantitas, (2)Rendahnya kedisiplinan murid, guru dan pegawai, (3)Keterbatasan sarana dan prasarana, (4) Rendahnya Input, (5) kurang dari 40% SDM Madrasah yang menguasai komputer. Kesemuanya ini akan mengakibat kan rendahnya out put dan minimnya prestasi madrasah. Padahal out put yang berprestasi akan dapat menjadi legimitasi madrasah sebagai intitusi yang layak dipercaya.

Madrasah di Persimpangan Jalan

Apabila kita menyaksikan televisi, hampir setiap stasiun menyiarkan bahkan membuat suatu paket acara khusus kriminal. Dari sana kita dapat melihat cermin buram bangsa Indonesia. Penyakit masyarakat berkembang pesat laksana wabah yang tak terkendali. Yang dahulu dibenci sekarang dicari, yang dahulu dicaci sekarang dipuji. Perjudian, prostitusi, miras, sabu-sabu dan narkoba dapat kita saksikan tanpa harus mengendap-endap seperti intel. Masyarakat seperti kehilangan arah, bingung apa yang harus dilakukan dengan anak bangsa yang sudah demikian meresahkan. Dalam kebingungan tersebut agama menjadi terasa penting sekali keberadaannya.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan memaksa orang sibuk mencari pemenuhan kebutuhan dengan segala cara. Suami dan Istri sibuk bekerja. Bapak pulang malam ibu pulang petang, Dalam keseharian anak-anak tidak sempat mendapat pengawasan apalagi pendidikan dari orang tuanya. Jika hal ini terus berlangsung maka segitiga emas pendidikan Indonesia akan kehilangan salah satu titik sudutnya yakni proses pendidikan keluarga, yang merupakan fondasi pendidikan selanjutnya.

Fenomena munculnya Sekolah Dasar Islam Terpadu ( SDIT) di tengah maraknya marger SD - SD Negeri yang kekurangan murid, menarik untuk dicermati. Keberanian menggunakan label Islam dalam penyelenggaran pendidikan ternyata mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Masyarakat yang sudah merasa kuatir terhadap keselamatan putri-putrinya meyakini bahwa dengan menyekolahkan anaknya pada sekolah yang berbasis agama merupakan upaya preventif untuk melindungi generasi bangsa dari ancaman penyakit masyarakat, terlebih pada pendidikan dasar yang merupakan pendidikan yang sangat fundamental. Di samping SD IT sekolah yang dengan tegas menunjukan jati diri sebagai sekolah berbasis agama ( SD/SMP/SMA Muhamadiyah ) juga mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dapat berkembang menjadi sekolah yang favorite. Pilihan masyarakat pada sekolah dengan basis agama menguatkan keyakinan bahwa agama mampu menjadi alat untuk memperbaiki keadaan, penjaga(kontrol)terhadap penyimpangan norma, serta bekal hidup yang lebih baik

Reformasi Madrasah

Permasalahan yang senantiasa dihadapi setiap tahun ajaran baru bagi madrasah di DIY ( MTs/MA) adalah minimnya pendaftar pada gelombang pertama. Lulusan SD/MI lebih tertarik mencari SMP Negeri maupun swasta dahulu dari pada MTs walau negeri sekalipun, demikian juga lulusan SMP/MTs lebih tertarik mendaftar ke SMA/SMK dari pada MAN. Namun demkian menguatnya keyakinan bahwa sekolah berbasis agama akan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi kelanjutan pendidikan putra-putrinya di masa sekarang harus dapat ditangkap sebagai sebuah peluang. SDIT dengan ciri khasnya sebagai Full Day School menjadi bukti nyata bahwa masyarakat semakin cerdas dalam memilih pendidikan yang aman dan nyaman bagi putra-putrinya. Fakta tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk mereformasi nama madrasah, dari MTsN menjadi SMP Islam Terpadu, dan MAN Menjadi SMA Islam Terpadu, yang dengan tegas menyatakan diri sebagai Islamic School yakni sekolah yang dalam proses pembelajarannya menggunakan gaya Islam ( Learning in Islamic Style ). Islamic School menjadi wadah dan kekuatan elemen pendidikan Islam. Masyarakat tidak perlu lagi bimbang bahwa MTsN adalah Islamic School tingkat SMP dan MAN adalah Islamic Shcool tingkat SMA, sehingga layak dijadikan alternatif yang setara dengan sekolah favoite yang mampu memberi rasa aman bagi masyarakat modern, dan menangkal dampak negatif dari globalisasi yang mengancam perilaku anak bangsa yang semakin tidak terkendali

Seiring dengan menguatnya keyakinan masyarakat bahawa pendidikan yang berbasis agama dapat memberikan rasa aman dan nyaman, maka di samping nama, management madrasah juga harus mengalami reformasi menuju management yang profesional dan modern sehingga benar-benar dapat memberi jaminan rasa aman kepada masyarakat sebagaimana mereka mendapatkannya ketika putra - putrinya memasuki SDIT. AA Gym dalam Tausyiahnya mengatakan " Jalankan reformasi dengan 3 M: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai dari sekarang"

1. Mulai dari diri sendiri

Pejabat Departemen Agama harus memiliki Politikel Will untuk membesarkan sekolah - sekolah di bawah Departemennya. Harus ada kebijakan yang dapat menggerakan seluruh guru dan pegawai dibawah Depertemennya. Sebagai Good Willnya ketauladan dari para pejabat Departemen Agama untuk menyekolahkan putra-putrinya pada sekolah di bawah DEPAG yang selama ini masih sangat kurang, harus segera dimulai. Dalam survei penulis dari 37 Guru dan Pegawai di tempat penulis bekerja hanya 2 orang yang menyekolahkan putranya di sekolah MTsN/MAN, bahkan tidak sedikit putra-putri pegawai DEPAG yang memiliki potensi ternyata menjadi maskot bagi sekolah-sekolah yang tidak di bawah naungan DEPAG. Adalah sebuah kerugian jika hal ini masih diteruskan. " Kalau kita sendiri enggan menyekolahkan putra-putrinya( tidak percaya ) ke MTs/MAN mengapa masih berharap orang lain mau menyekolahkan ke MTsN/MAN ?"

Seluruh pegawai Departemen Agama harus memiliki tanggung jawab moral untuk membuat MTsN/MAN menjadi sekolah favorite. Sebagai guru atau pegawai DEPAG tentu akan sangat merasa membohongi diri sendiri dan berdosa ketika menerima gaji (pendapatan ) dari DEPAG sementara intitusinya ( MTsN/MAN) tidak mereka percayai sebagai lembaga yang mampu mendidik putra-putrinya. Jika dihitung jumlah seluruh pegawai di DEPAG DIY dan diwajibkan menyekolahkan putra-putrinya di MTs/MAN ( Islamic School) maka pengaruh dan syiarnya terhadap usaha membesarkan MTsN/MAN akan sangat besar. Sebagai rangsangan barangkali "Bebas Biaya Pendidikan bagi putra-putri pegawai DEPAG di MTsN/MAN" dapat dijadikan alternatif untuk membesarkan Islamic School tingkat SMP maupun SMA ( MTsN/MAN).

Para guru madrasah harus mulai mengakui kekurangannya dan mau belajar kembali. Tugas manusia sebagai pembelajar tidak harus terhenti karena sudah menjadi guru. Berdisiplin yang pernah dilakukan ketiak menjadi murid tida harus berhenti karena sudah menjadi guru. Rendahnya hasil test kompntensi guru madrasah tidak perlu disikapi secara emosional sehingga berusaha mencari data dan usaha untuk menujukan hasil test tersebut tidak benar. Sikap enggan bertanya ( Gengsi ) dan pandangan bertanya adalah bodoh, bertanya berarti mengakui kebenaran hasil test komptensi harus dibuang jauh-jauh. Sebagai guru tentu sadar bahwa apabila ada murid yang bertanya kita justeru memberi pujian bahkan mengakui bahwa yang bertanya berarti ada upaya untuk memahami.

Filosofi bahwa bekerja ( mengajar ) untuk menghalalkan gaji yang diterima, harus diganti dengan bekerja untuk melayani memuaskan masyarakat. Bagaimana mungkin halal kalau murid tidak puas, orang tua tidak nyaman, dan masyarakat tidak percaya bahwa kita dapat mendidik. Jangankan sampai toyyib, halalpun masih dipertanyakan !

2. Mulai dari yang kecil

Wacana yang berkembang akhir-akhir ini adalah "Sekolah sebenarnya bukan hanya sekedar lulus atau tidak lulus ", namun harus dapat menunjukan mana yang baik mana yang jelek, mana adil dan mana yang dzalim, mana yang benar dan mana yang salah. Menumpuknya pengangguran intelektual sebenarnya bermula dari dibukanya kran kelulusan yang selebar - lebarnya. Pertimbangan kompetensi dan budi pekerti nyaris nihil, sehingga walaupun akhlak dan moralnya jelek jika angka (kemampuan kognitif) norma kelulusannya terpenuhi maka luluslah dia. Oleh karena itu dalam mengantisipasi dampak negatif globalisasi dunia, sangat dinantikan Islamic School dengan standard kedisiplinan yang mampu mengubah perilaku jelak menjadi baik sesuai dengan " Caracter Building ", yakni sopan-santun, disipilin, semangat dan kerja keras, jujur dan tanggung jawab. Sekolah dengan kurikulum yang dijiwai " Caracter Building ", akan menjadi sekolah yang dapat menjawab kebutuhan jaman dan dapat memberi rasa aman. Tertib dan disipiln hanya membutuhkan waktu yang sedikit tetapi mempunyai dampak yang sangat luar biasa.

3. Mulai dari sekarang

Orang bilang untuk memulai itu sulit, tetapi lebih sulit lagi kalau kita tidak pernah memulai. Mereformasi MTsN/MAN sebagai Islamic School tidak perlu ditunda-tunda mulailah dari sekarang juga. Para guru DEPAG yang sekaligus menjadi penceramah agama adalah posisi strategis untuk menjadi bintang iklan (juru kampanye) dalam kebesaran Islamic School tingkat SMP/SMA ( MTsN/MAN)

Kepada masyrakat percayalah bahwa di dalam MTsN/MAN (Islamic School tingkat SMP dan SMA )putra - putri Indonesia akan mendapat pendidikan yang dapat memberi rasa aman dan nyaman.

Artikel: Buat Apa Sekolah?



Judul: Buat Apa Sekolah?
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan
Nama & E-mail (Penulis): yosep gobai
Saya: Mahasiswa sekolah tinggi teknologi adisucjipto STTA yogyakarta
Tanggal: 15 sabtu januari 2005

Buat Apa Sekolah?
Oleh: yosep gobai*
Seorang ibu berkata pada anaknya" nak kalau sudah besar kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS) biar hidupmu tidak susah, jangan meniru bapak dan ibumu yang tiap hari harus jualan sayur kepasar, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang liat tetangga kita itu sekolahannya tinggi coba lihat hidupnya enak kamu harus mencontoh dia" . Sementara dilain pihak seorang ibu berkata " buat apa sekolah tinggi-tinggi ? dokter sudah ada, menteri sudah ada, guru banyak, presiden sudah ada, mendingan uang sekolahmu dibelikan sapi biar beranak-pinak lebih jelas hasilnya dari pada harus dibayarkan untuk sekolah, coba lihat si lukman itu sekolah jauh-jauh tapi setelah selesai nganggur dan akhirnya sekarang jadi sopir anggutan.." !

Sadar atau tidak, ditingkatan masyarakat opini yang terbangun mengenai dunia pendidikan (sekolah) seperti yang diilustrasikan diatas. Masyarakat menilai bahwa salah satu alat keberhasilan seseorang bersekolah adalah sejauh mana dia mampu membawa dirinya pada status social yang tinggi dimasyarakat indikasinya adalah apakah seseorang itu bekerja dengan berpenampilan elegan (berdasi, pake sepatu mengkilap, dan membawa tas kantor) atau tidak, dan apakah seseorang tersebut bisa kaya dengan pekerjaannya? Kalau seseorang yang telah menempuh jenjang pendidikan (SLTA, D1, D2, D3, S1, S2, dan S3) lulus dan setelah itu menganggur maka dia telah gagal bersekolah. Hal semacam inilah yang sering ditemui di masyarakat kita.

Mencermati hal diatas, apakah memang praktek-praktek pendidikan yang selama ini dijalani ada kesalahan proses?, mengapa dunia pendidikan belum bisa memberikan pengaruh pencerahan ditingkatan masyarakat, lantas apa yang selama ini dilakukannya oleh dunia pendidikan kita? kalaupun yang diopinikan masyarakat itu adalah kesalahan berpikir, mengapa kualitas pendidikan di Indonesia tidak lebih baik dari negara lainnya, bukankah setiap hari upaya perbaikan pendidikan terus dilakukan mulai dari seminar sampai dengan pembuatan undang-undang system pendidikan nasional? Atau inilah yang dimaksud oleh Ivan Ilich bahwa "SEKOLAH itu lebih berbahaya daripada nuklir. Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah."

Jelasnya pendidikan (sekolah) bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan manusia-manusia penghuni pabrik, berpenampilan elegan apalagi hanya sebatas regenerasi pegawai negeri sipil (PNS), tapi lebih dari itu adalah pendidikan merupakan upaya bagaimana memanusiakan manusia. Tentunya proses tersebut bukan hal yang sederhana butuh komitmen yang kuat dari setiap komponen pendidikan khusunya pemerintah bagaimana memposisikan pendidikan sebagai inventasi jangka panjang dengan produk manusia-manusia masa depan yang hadal, kritis dan bertanggung jawab. Kalau dunia pendidikan hanya diposisikan sebagai pelengkap dunia industri maka bisa jadi manusia-manusia Indonesia kedepan adalah manusia yang kapitalistik, coba perhatikan menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru dipinggir jalan sering kita temukan mulai dari spanduk, baliho, liflet, brosur, pamlet dan stiker yang bertuliskan slogan yang kapitalistik seperti " lulus dijamin langsung kerja, kalau tidak uang kembali 100%, adapula yang bertuliskan "sekolah hanya untuk bekerja, disini tempatnya" apalagi banyaknya sekolah-sekolah yang bergaya industri semakin memperparah citra dunia pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pada pengakumulasian modal daripada pemenuhan kualitas pelayanan akademik yang diberikan. Akhirnya terlihat dengan jelas bagaimana mutu SDM Indonesia yang jauh dari harapan seperti dilaporkan oleh studi UNDP tahun 2000 yang menyatakan bahwa Human Development Indeks (HDI) Indonesia menempati urutan ke 109 dari 174 negara atau data tahun 2001 menempati urutan ke 102 dari 162 negara.

Jadi, tidak mengherankan kalau ditingkatan masyarakat memandang dunia pendidikan (sekolah) sampai hari ini seperti layaknya sebagai institusi penyalur pegawai negeri sipil (PNS) indikasi dari pandangangan tersebut bisa dilihat bagaimana animo masyarakat yang cukup tinggi ketika pembukaan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) seolah-olah status/gelar akademik yang mereka capai (D1,D2,D3,S1,S2, dan S3) hanya cocok untuk kerja-kerja kantoran (PNS) hal inipun merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingkat pengangguran kaum terdidik setiap tahunnya bertambah sebab kesalahan motiv sekolah sebagai akibat dari prilaku sekolah yang kapitalistik akhirnya banyak melahirkan kaum terdidik yang bermentalitas "Gengsi gede-gedean"

Beberapa hal diatas setidaknya menjadi renungan bagi dunia pendidikan kita bahwa pendidikan bukanlah sesederhana dengan hanya mengupulkan orang lantas diceramahi setelah itu pulang kerumah mengerjakan tugas besoknya kesekolah lagi sampai kelulusan dicapainya (sekolah berbasis jalan tol), kalau aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini maka pilihan untuk bersekolah merupakan pilihan yang sangat merugikan akan tetapi kalau proses yang dijalankannya tidak seperti sekolah jalan tol maka pilihan untuk beinvestasi di dunia pendidikan dengan jalan menyekolahkan anak-anak kita merupakan pilihan yang sangat cerdas. Oleh sebab itu sudah saatnya dunia pendidikan kita mereformasi diri secara serius khusunya bagaimana pembelajaran di sekolah itu bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran kritis sehingga melalui kekuatan kesadaran kritis bisa menganalisis, mengaitkan bahkan menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan persoalan system bukan karena persoalan jenjang sekolah. Inilah yang seharusnya menjadi muatan penting untuk diinternalisasikan disetiap diri siswa.

Selain itu, mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa sekolah itu tidak sekedar tahapan untuk bekerja kantoran menjadi salah satu agenda dunia pendidikan yang harus segera dilakukan sehingga masyarakatpun bisa memahami secara holistik untuk apa pendidikan itu dilahirkan. Agenda semacam ini akan bisa dijalankan secara baik kalau masing-masing insitusi pendidikan bertindak secara fair bagaimana proses penerimaan siswa baru tidak lagi memakai slogan yang menyesatkan. Mempertahankan sekolah yang kapitalistik sama saja menggerogoti minat dan motivasi masyarakat untuk turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Dongeng PAUD : Si Dogi dan Si Ciko yang Sombong, Malas & Bodoh

Ada Suatu Kerajaan bernama FAUNA, yang diperintah oleh Raja Lion. Sang raja adalah seekor singa yang arif dan bijaksana. Di kerajaan ini penduduknya adalah binatang. Di situ, hiduplah seekor anjing yang bernama dan seekor ayam yang bernama Ciko,yang mempunyai cara hidup yang berbeda. Si dogi kalau mau tidur baru pada tengah malam, dan suka bangun kesiangan, sedangkan si ciko suka cepat tidur, dan suka bangun pagi (subuh),Mengapa demikian….? O ternyata Dogi adalah seekor anjing yang sangat sombong. Dia suka mempertontonkan kumisnya yang panjang setiap kai berjalan melewati jalan-jalan di desa. Dia juga sering berteriak supaya semua penduduk melihat kepadanya sambil menarik-narik kumisnya. Selain itu, dogi kalau sudah kenyang sering tidur-tiduran . ia anjing yang malas atau tidak mau belajar, sehingga penduduk desa menjuluki Dogi “ANJING YANG MALAS”. Tidak heran kalau dogi itu bodoh.

Upgrading Teknologi WiFi Ke Teknologi WiMAX BWA Sebagai Media Komunikasi Pada PT Aplikanusa Lintasarta Bandar Lampung

WiMAX merupakan standar industri yang bertugas menginterkoneksikan berbagai standar teknis yang bersifat global menjadi satu kesatuan. Yang membedakan antara Wi-Fi dan WiMAX adalah standar teknis yang bergabung di dalamnya.Berdasarkan pembagian segmen penggunaan teknologi wireless, WiMAX ditujukan untuk penggunaan di segmen Metropolitan Area Networks (MAN). MAN biasanya terdiri dari kumpulan LAN, dan meliputi area dalam radius 50 km. Dari segi segmen penggunaan jelas WiMAX ditujukan untuk segmen yang sama dengan teknologi kabel tembaga (contohnya DSL). Masalah yang sering terjadi pada umumnya adalah rendahnya laju data broadband akibat terbaginya bandwidth ke banyak pengguna di jaringan. Rendahnya laju data juga dapat disebabkan oleh jauhnya jarak antara lokasi pengguna dengan sentra koneksi penyedia layanan.Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang yang sering terjadi. Yakni keterbatasan coverage area dikarenakan kondisi teknologi yang digunakan saat ini masih menggunakan teknologi WiFi yang masih menggunakan modulasi Line of sight (LOS), sehingga dapat membawa solusi guna menangani permasalahan yang ada pada saat ini.

My Profile

Nama : Mei Dewi Astuti
Alamat : Bilabong,blok.B
Status : Single